Kerja sama bisnis biasanya dimulai dengan kesepakatan yang saling menguntungkan. Namun, masalah dapat muncul ketika salah satu pihak tidak menjalankan kewajibannya. Misalnya, mitra terlambat membayar, tidak menyerahkan barang sesuai kesepakatan, atau menggunakan aset bisnis tanpa persetujuan. Jika dibiarkan, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi sengketa bisnis. Karena itu, jangan langsung mengambil langkah hukum tanpa memahami posisi dan bukti yang dimiliki. Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan sejak masalah mulai muncul.
Periksa Kembali Isi Perjanjian
Langkah pertama adalah membaca kembali perjanjian yang telah disepakati. Jangan hanya mengandalkan ingatan atau komunikasi melalui pesan singkat.Periksa hak dan kewajiban masing-masing pihak. Selain itu, lihat ketentuan mengenai pembayaran, batas waktu, pembagian keuntungan, penggunaan aset, hingga konsekuensi jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya.
Misalnya, perjanjian menyebutkan bahwa pembayaran harus dilakukan paling lambat tanggal tertentu. Jika pembayaran tidak dilakukan sampai batas waktu tersebut, kondisi itu perlu dibandingkan dengan ketentuan dalam kontrak. Dengan demikian, Anda dapat mengetahui apakah tindakan mitra memang bertentangan dengan kesepakatan atau masih berada dalam ruang yang diperbolehkan.
Selain perjanjian, kumpulkan seluruh bukti yang berkaitan dengan kerja sama. Bukti tersebut dapat berupa invoice, bukti transfer, surat jalan, laporan pekerjaan, email, percakapan, maupun dokumen lain. Selanjutnya, susun bukti berdasarkan kronologi. Catat kapan perjanjian dibuat, kewajiban apa yang harus dipenuhi, kapan masalah mulai terjadi, dan komunikasi apa saja yang sudah dilakukan. Langkah ini penting karena sengketa bisnis tidak hanya berkaitan dengan siapa yang merasa dirugikan. Posisi masing-masing pihak perlu dilihat berdasarkan dokumen dan fakta yang tersedia.
Jika mitra belum memenuhi kewajibannya, komunikasikan masalah tersebut secara jelas. Sebaiknya, permintaan tidak hanya disampaikan secara lisan. Misalnya, Anda dapat meminta mitra memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian. Jelaskan pula kewajiban yang belum dipenuhi dan dasar permintaan tersebut. Dengan adanya komunikasi tertulis, para pihak memiliki catatan mengenai masalah yang sedang terjadi. Selain itu, langkah ini dapat menjadi kesempatan untuk menyelesaikan persoalan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Pertimbangkan Negosiasi atau Mediasi
Tidak semua sengketa bisnis harus langsung dibawa ke pengadilan. Jika hubungan bisnis masih memungkinkan untuk dipertahankan, negosiasi dapat menjadi salah satu pilihan. Melalui negosiasi, para pihak dapat membicarakan masalah dan mencari solusi berdasarkan kepentingan masing-masing. Misalnya, pembayaran dilakukan secara bertahap atau kewajiban tertentu diberikan tenggat waktu baru.
Di sisi lain, jika komunikasi langsung tidak menemukan titik temu, para pihak dapat mempertimbangkan mediasi. Dalam proses ini, pihak ketiga yang netral membantu para pihak mencari kemungkinan kesepakatan. Jika sengketa perdata sudah diajukan ke pengadilan, PERMA Nomor 1 Tahun 2016 mengatur bahwa perkara perdata pada prinsipnya wajib terlebih dahulu diupayakan melalui mediasi, dengan beberapa pengecualian.
Karena itu, mediasi dapat menjadi salah satu tahapan penting dalam penyelesaian perkara perdata. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kemauan dan iktikad baik para pihak untuk mencari kesepakatan.
Jika mitra tetap tidak memenuhi kewajibannya, somasi dapat menjadi salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan. Somasi pada dasarnya merupakan teguran atau permintaan agar pihak yang memiliki kewajiban memenuhi prestasinya. Namun, isi somasi sebaiknya tidak dibuat sembarangan. Dokumen tersebut perlu menjelaskan hubungan hukum para pihak, kewajiban yang belum dipenuhi, dasar tuntutan, serta permintaan yang ingin diselesaikan. Selain itu, perhatikan isi perjanjian. Bisa saja kontrak telah mengatur mekanisme pemberian teguran, batas waktu perbaikan, atau prosedur penyelesaian perselisihan tertentu.
Jika negosiasi dan mediasi tidak menghasilkan kesepakatan, Anda dapat mempertimbangkan langkah hukum berikutnya berdasarkan kondisi perkara. Pilihan tersebut dapat berupa arbitrase apabila terdapat klausul arbitrase dalam perjanjian, atau gugatan ke pengadilan apabila jalur tersebut tersedia dan sesuai dengan posisi hukum para pihak. Namun, sebelum mengambil langkah tersebut, lakukan pemeriksaan terhadap kontrak, bukti, kerugian, serta tuntutan yang ingin diajukan. Dengan begitu, langkah yang dipilih tidak hanya didasarkan pada emosi karena hubungan bisnis sedang bermasalah.
Jangan Tunggu Sengketa Bisnis Makin Besar
Masalah dengan mitra sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama. Semakin lama persoalan berlangsung, semakin banyak transaksi, komunikasi, dan kepentingan yang dapat ikut terdampak. Karena itu, ketika mulai muncul sengketa bisnis, segera periksa perjanjian dan bukti yang tersedia. Selanjutnya, tentukan apakah masalah masih dapat diselesaikan melalui komunikasi, negosiasi, atau mediasi.
Di sisi lain, apabila masalah sudah menyangkut pelanggaran perjanjian dan menimbulkan kerugian, konsultasi hukum dapat membantu Anda memahami posisi sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Jangan menunggu sampai konflik semakin besar. Semakin cepat posisi hukum diperiksa, semakin banyak pilihan penyelesaian yang dapat dipertimbangkan.
Artikel Terkait
Artikel Terbaru
Butuh Konsultan Intelektual Kekayaan?
Lindungi merek dan inovasi Anda bersama konsultan HKI Renchmark. Hubungi kami untuk solusi terpercaya!